Madrasah Cinta

Bayu Gawtama @ http://www.eramuslim.com

05/12/2005 10:09 WIB

Apa yang paling
dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya
adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh,
seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu
yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian
dari seorang bidan; "positif".

Meski berat, tak
ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam
kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda
baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di
perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia?
Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba,
tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika
mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa
terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan
pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus
bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.

Tak ada yang
lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu
pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan
sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak.
Si kecil baru saja berucap "Ma…"
segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di
daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris,
antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.
Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan
langkah awal kesuksesannya. Meskipun di saat yang sama, pikirannya
terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami
tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti
di tengah jalan.

"Demi
anak", "Untuk anak", menjadi alasan
utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat
ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus
beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya
dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali
hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju
untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru
kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus
berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.

Di saat pusing
pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah
catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2.
Beli susu anak, … nomor urut selanjutnya baru
kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa
menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa,
asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil
menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap
terdengar.

Ia menjadi guru
yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar,
menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby
sitter
yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri
salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.
Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan
menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya
menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun,
mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu
yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen
didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus
menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura
si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata
barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya
menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun
mendongeng.

Tak ada yang
dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang
akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu
kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta
kalimat, “Sudah makan belum?” tak lupa
terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil
yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang
dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.

Hari ketika si
anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam
hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa
yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata?
Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam
sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi
pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun
pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun
menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada
satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"

Saat senja tiba.
Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya.
Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu
pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu
meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin
dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam
shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar
tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak
kecil," ujarnya.

Duh ibu, semoga
saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak
ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti
cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya
punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru:
pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang
dicinta.**

3 Responses to “Madrasah Cinta”

  1. Inggit Says:

    Subhanallah, entah apa yg membuat tangan ini tuk mau mengetik disini,tapi yg pasti setelah membaca artikel diatas. aku teringat sama ma2q…aq takut jika kelak aq tak bisa bertemu dengannya lagi, takut jika kelak aq tak bisa memenuhi salah satu pintanya tersebut, takut jika ada dosa dan kesalahan yg pernah melukai hati beliau…..takut tak bisa membahagiakan beliau, takut…
    semoga aq bisa menjadi anak yg berbakti.Subhanllah…

    mmm… af1 jika inggit dah lancang baca…

  2. - wiENzy - Says:

    Waktu ortu saya memutuskan mengadopsi seorang anak, yang skr usianya 2thn, saya jugalah yg kebagian merawatnya dari umur sehari. Cinta itu tumbuh begitu saja, sangat tulus dan tidak menuntut, demi melihat bayi mungil itu di dalam pelukan saya. Berdendang untuk dia, meredakan tangisnya, terbangun tengah malah karna tangisannya.

    Seorang anak, mampu mengubah seseorang untuk lebih bijak. Untuk lebih berani menghadapi masa depan.

    Dan bagi saya, dia adalah masa depan saya… sekuat kerinduan saya untuk memeluk bayi2 yang lain dan mengantarkan mereka ke masa depan yang paling baik..

  3. pUtZzzz NecH Says:

    I love u much mom…
    alhamdullillah pas aq baca artikel ini, ibuQ da si sampingQ…
    jg aq bisa menyayangi beliau langsung…
    mkc ya mas..

Leave a Reply