Iblis Sekali membangkang, (kita) berkali-kali
Published @ myQuran.org | author : dimasn
MANUSIA
lebih mulia dari iblis. Itu sebabnya, ketika Allah menciptakan manusia
pertama, Adam Alaihissalam, Dia memerintahkan jin dan malaikat untuk
sujud kepada Adam. Semua pun sujud. Namun, iblis menolak. Lantaran
itulah, ia diusir dari surga.
Namun, tak selamanya kedudukan manusia lebih mulia dari iblis. Kadang, ia bahkan setara hinanya. Bahkan, lebih hina lagi.
Ada sebuah kisah yang menarik. Namun, tak jelas apakah kisah ini
bersumber dari penuturan hadis ataupun sekadar kisah semata. Tetapi,
kandungannya sangat menarik untuk menggugah semangat untuk kembali
meninggikan derajat melebihi iblis, setan dan para pengikutnya.
Alkisah, ada seseorang yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Tak
jelas bagaimana asal usulnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat
tali persahabatan.
Baru saja keduanya bersahabat, waktu subuh pun berakhir. Setan itu
melihat manusia yang menjadi sahabatnya itu tidak mengerjakan salat.
Maka setan pun tersenyum.
“Orang ini memang pantas menjadi sahabatku !” gumamnya.
Persahabatan pun berlanjut dengan mesranya. Tetapi, sebagaimana ‘teori’
persahabatan dengan setan, selalu saja setan yang mendominasi pengaruh.
Manusia sahabat setan itu mulai memiliki sifat-sifat setan. Sementara,
setan sahabat manusia itu sama sekali tidak bertambah sifat
kemanusiaannya.
Ketika azan Dhuhur bergema, setan membisikkan kepada sahabatnya ini
untuk tidak mengerjakan salat. Ia pun tersenyum lebar lantaran
sahabatnya ini memang tidak menunaikan salat Dhuhur.
“ Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti !” kata setan dalam hati, andai ia memang punya hati.
Setan makin gembira. Manusia yang satu ini memang menyenangkan untuk
menjadi sahabatnya. Ketika waktu Ashar berlalu, temannya itu dilihatnya
masih juga asyik dengan kegiatannya. Kali ini, setan mulai terdiam.
Begitu pula ketika datang waktu Magrib. Temannya itu ternyata tidak
juga menunaikan salat. Aneh, bukannya gembira, si setan malah tampak
mulai gelisah. Senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya
nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat- ingat sesuatu.
Akhirnya, ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan salat
Isya, setan itu terlihat sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan
diri lagi. Dihampirinya manusia yang menjadi sahabatnya itu.
“Hai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !” katanya dengan nada ketakutan.
Manusia yang menjadi sahabatnya ini keheranan.
“Kenapa kamu ingkar janji ? Bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?” katanya.
“Aku takut !” jawab setan dengan suara gemetar. “Nenek moyangku saja,
dulu dilaknat Allah hanya karena sekali membangkang perintah-Nya, yaitu
ketika menolak disuruh sujud pada Adam. Nah, hari ini saja kusaksikan
kamu telah lima kali membangkang perintah untuk bersujud kepada-Nya.
Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !”
jelas setan sambil pergi meninggalkannya.