Archive for July, 2005

An advice

Tuesday, July 26th, 2005

author : Irwan Dion K @ friendster’s message

A successful person actually is the one who gets to know Allah successfully, obeys Him bravely, and
stays away from all things prohibited. A real successful person is the one who continuously keeps ones heart clean and pure. Besides, he keeps improving his capability to perform his best services which can be seen from his sincerity and noble morality. We will reach success in the hereafter if our success in life does not collide with things that Allah prohibits. It will be so precious when success in life comes along with
obediency to Allah The Most Holiest and Highest. For that reason, do not ever think that we are
acquiring success when you achieve something. We have success when we are able to do our best in
life for the sake of humankind

DARI SEORANG ANAK IRAK DALAM MIMPIKU, UNTUK BUSH

Thursday, July 21st, 2005

Author : Abdurrahman Faiz
Mengapa kau biarkan anak-anak meneguk derita
peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami
dengan bahasa yang paling perih

Irak, Afghanistan, Palestina
dan entah negeri mana lagi
meratap-ratap

Mengapa kau koyak tubuh kami ?
apa yang kau cari ?
apa salah kami ?
kami hanya bocah
yang selalu gemetar mendengar
keributan dan ledakan
mengapa kau perangi bapak ibu kami ?

Kini
kami tak pernah lagi melihat pelangi
hanya api di matamu
dan sejarah yang perih
tapi kami sudah tak bisa lagi menangis
Kami berdarah
Kami mati
(Oktober 2003)

Iblis Sekali membangkang, (kita) berkali-kali

Thursday, July 21st, 2005

Published @ myQuran.org | author : dimasn

MANUSIA
lebih mulia dari iblis. Itu sebabnya, ketika Allah menciptakan manusia
pertama, Adam Alaihissalam, Dia memerintahkan jin dan malaikat untuk
sujud kepada Adam. Semua pun sujud. Namun, iblis menolak. Lantaran
itulah, ia diusir dari surga.

Namun, tak selamanya kedudukan manusia lebih mulia dari iblis. Kadang, ia bahkan setara hinanya. Bahkan, lebih hina lagi.

Ada sebuah kisah yang menarik. Namun, tak jelas apakah kisah ini
bersumber dari penuturan hadis ataupun sekadar kisah semata. Tetapi,
kandungannya sangat menarik untuk menggugah semangat untuk kembali
meninggikan derajat melebihi iblis, setan dan para pengikutnya.

Alkisah, ada seseorang yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Tak
jelas bagaimana asal usulnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat
tali persahabatan.

Baru saja keduanya bersahabat, waktu subuh pun berakhir. Setan itu
melihat manusia yang menjadi sahabatnya itu tidak mengerjakan salat.
Maka setan pun tersenyum.

“Orang ini memang pantas menjadi sahabatku !” gumamnya.

Persahabatan pun berlanjut dengan mesranya. Tetapi, sebagaimana ‘teori’
persahabatan dengan setan, selalu saja setan yang mendominasi pengaruh.
Manusia sahabat setan itu mulai memiliki sifat-sifat setan. Sementara,
setan sahabat manusia itu sama sekali tidak bertambah sifat
kemanusiaannya.

Ketika azan Dhuhur bergema, setan membisikkan kepada sahabatnya ini
untuk tidak mengerjakan salat. Ia pun tersenyum lebar lantaran
sahabatnya ini memang tidak menunaikan salat Dhuhur.

“ Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti !” kata setan dalam hati, andai ia memang punya hati.

Setan makin gembira. Manusia yang satu ini memang menyenangkan untuk
menjadi sahabatnya. Ketika waktu Ashar berlalu, temannya itu dilihatnya
masih juga asyik dengan kegiatannya. Kali ini, setan mulai terdiam.

Begitu pula ketika datang waktu Magrib. Temannya itu ternyata tidak
juga menunaikan salat. Aneh, bukannya gembira, si setan malah tampak
mulai gelisah. Senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya
nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat- ingat sesuatu.

Akhirnya, ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan salat
Isya, setan itu terlihat sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan
diri lagi. Dihampirinya manusia yang menjadi sahabatnya itu.

“Hai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !” katanya dengan nada ketakutan.

Manusia yang menjadi sahabatnya ini keheranan.

“Kenapa kamu ingkar janji ? Bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?” katanya.

“Aku takut !” jawab setan dengan suara gemetar. “Nenek moyangku saja,
dulu dilaknat Allah hanya karena sekali membangkang perintah-Nya, yaitu
ketika menolak disuruh sujud pada Adam. Nah, hari ini saja kusaksikan
kamu telah lima kali membangkang perintah untuk bersujud kepada-Nya.
Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !”
jelas setan sambil pergi meninggalkannya.