Love is Beautiful

June 28th, 2008 by fahmijafar

Sudah baca novel Sang Pemimpi? Kalau
sudah, pasti tau tentang Arai kan. Saya mengagumi filosofi cinta Arai
terhadap Zakiah Nurmala, bidadarinya. Dalam pandangan saya, Arai sudah
paham betul bagaimana seharusnya mencintai sesuatu/seseorang. Arai
selalu berpikir positif meskipun Nurmala jelas-jelas menolaknya. Tapi,
lihatlah apa yang dikatakan Arai..

“Nurmala adalah tembok yang kukuh Kal…,” kilahnya diplomatis.
“Dan usahaku ibarat melemparkan lumpur ke tembok itu,” sambungnya optimis.
“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.
“Tidak
akan! Tapi lumpur itu akan membekas di sana, apa pun yang kulakukan,
walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas di hatinya,”
kesimpulannya filosofis.

Mungkin, sudah tak penting lagi apakah Nurmala akan menerima atau
menolaknya, baginya, mencintai tanpa memiliki, itu sudah cukup..

Doa untuk kekasih hati

August 15th, 2006 by fahmijafar

Entah kenapa sy ga pernah bosen ngebaca doa/puisi ini. Udah beberapa kali saya posting juga di blog sy di blogspot, trus pernah juga di onebit (lagi disuspend, belom bayar…hihihi). Tapi di friendster malah belom…



Allah Yang Maha Pemurah, terimakasih Engkau telah menciptakan dia dan mempertemukan saya dengannya.

Terimakasih untuk saat-saat indah yang boleh kami nikmati bersama.

Terimakasih untuk setiap pertemuan yang boleh kami lalui bersama.

Terimakasih untuk setiap saat-saat yang lalu.

Saya datang bersujud dihadapan-Mu,

Sucikan hati saya yaa Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidup saya.

Yaa Allah, jika tulang rusukku bukan miliknya,
janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya.

Janganlah biarkan saya melabuhkan hati saya di hatinya.

Kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya
dan usirlah dia dari relung hati saya.

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan murni.

Tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Tetapi jika Kau ciptakan dia untuk saya, yaa Allah,
tolong satukan hati kami.

Bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya.

Berikan saya kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya.

Urapilah dia agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya
dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagaimana saya telah Kau ciptakan.

Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia.

Yaa Allah Maha Pengasih, dengarlah doa saya ini.

Lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendak-Mu.

Allah Yang Maha Kekal, saya tahu Engkau senantiasa memberikan yang terbaik buat saya.

Luka dan keraguan yang saya alami pasti ada hikmahnya.

Pergumulan ini mengajar saya untuk hidup makin dekat pada-Mu, untuk lebih peka terhadap suara-Mu
yang membimbing saya menuju terang-Mu.

Ajarlah saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan.

Jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendak saya yang jadi dalam setiap bagian hidup saya, yaa Allah.

Amin….

[posted by ukhti_kiki (dengan beberapa perubahan) @ http://www.myquran.org 22 Des 05]

Madrasah Cinta

December 19th, 2005 by fahmijafar

Bayu Gawtama @ http://www.eramuslim.com

05/12/2005 10:09 WIB

Apa yang paling
dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya
adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh,
seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu
yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian
dari seorang bidan; "positif".

Meski berat, tak
ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam
kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda
baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di
perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia?
Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba,
tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika
mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa
terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan
pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus
bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.

Tak ada yang
lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu
pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan
sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak.
Si kecil baru saja berucap "Ma…"
segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di
daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris,
antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.
Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan
langkah awal kesuksesannya. Meskipun di saat yang sama, pikirannya
terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami
tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti
di tengah jalan.

"Demi
anak", "Untuk anak", menjadi alasan
utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat
ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus
beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya
dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali
hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju
untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru
kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus
berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.

Di saat pusing
pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah
catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2.
Beli susu anak, … nomor urut selanjutnya baru
kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa
menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa,
asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil
menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap
terdengar.

Ia menjadi guru
yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar,
menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby
sitter
yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri
salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.
Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan
menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya
menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun,
mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu
yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen
didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus
menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura
si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata
barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya
menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun
mendongeng.

Tak ada yang
dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang
akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu
kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta
kalimat, “Sudah makan belum?” tak lupa
terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil
yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang
dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.

Hari ketika si
anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam
hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa
yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata?
Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam
sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi
pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun
pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun
menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada
satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"

Saat senja tiba.
Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya.
Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu
pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu
meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin
dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam
shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar
tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak
kecil," ujarnya.

Duh ibu, semoga
saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak
ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti
cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya
punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru:
pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang
dicinta.**

An advice

July 26th, 2005 by fahmijafar

author : Irwan Dion K @ friendster’s message

A successful person actually is the one who gets to know Allah successfully, obeys Him bravely, and
stays away from all things prohibited. A real successful person is the one who continuously keeps ones heart clean and pure. Besides, he keeps improving his capability to perform his best services which can be seen from his sincerity and noble morality. We will reach success in the hereafter if our success in life does not collide with things that Allah prohibits. It will be so precious when success in life comes along with
obediency to Allah The Most Holiest and Highest. For that reason, do not ever think that we are
acquiring success when you achieve something. We have success when we are able to do our best in
life for the sake of humankind

DARI SEORANG ANAK IRAK DALAM MIMPIKU, UNTUK BUSH

July 21st, 2005 by fahmijafar

Author : Abdurrahman Faiz
Mengapa kau biarkan anak-anak meneguk derita
peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami
dengan bahasa yang paling perih

Irak, Afghanistan, Palestina
dan entah negeri mana lagi
meratap-ratap

Mengapa kau koyak tubuh kami ?
apa yang kau cari ?
apa salah kami ?
kami hanya bocah
yang selalu gemetar mendengar
keributan dan ledakan
mengapa kau perangi bapak ibu kami ?

Kini
kami tak pernah lagi melihat pelangi
hanya api di matamu
dan sejarah yang perih
tapi kami sudah tak bisa lagi menangis
Kami berdarah
Kami mati
(Oktober 2003)

Iblis Sekali membangkang, (kita) berkali-kali

July 21st, 2005 by fahmijafar

Published @ myQuran.org | author : dimasn

MANUSIA
lebih mulia dari iblis. Itu sebabnya, ketika Allah menciptakan manusia
pertama, Adam Alaihissalam, Dia memerintahkan jin dan malaikat untuk
sujud kepada Adam. Semua pun sujud. Namun, iblis menolak. Lantaran
itulah, ia diusir dari surga.

Namun, tak selamanya kedudukan manusia lebih mulia dari iblis. Kadang, ia bahkan setara hinanya. Bahkan, lebih hina lagi.

Ada sebuah kisah yang menarik. Namun, tak jelas apakah kisah ini
bersumber dari penuturan hadis ataupun sekadar kisah semata. Tetapi,
kandungannya sangat menarik untuk menggugah semangat untuk kembali
meninggikan derajat melebihi iblis, setan dan para pengikutnya.

Alkisah, ada seseorang yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Tak
jelas bagaimana asal usulnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat
tali persahabatan.

Baru saja keduanya bersahabat, waktu subuh pun berakhir. Setan itu
melihat manusia yang menjadi sahabatnya itu tidak mengerjakan salat.
Maka setan pun tersenyum.

“Orang ini memang pantas menjadi sahabatku !” gumamnya.

Persahabatan pun berlanjut dengan mesranya. Tetapi, sebagaimana ‘teori’
persahabatan dengan setan, selalu saja setan yang mendominasi pengaruh.
Manusia sahabat setan itu mulai memiliki sifat-sifat setan. Sementara,
setan sahabat manusia itu sama sekali tidak bertambah sifat
kemanusiaannya.

Ketika azan Dhuhur bergema, setan membisikkan kepada sahabatnya ini
untuk tidak mengerjakan salat. Ia pun tersenyum lebar lantaran
sahabatnya ini memang tidak menunaikan salat Dhuhur.

“ Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti !” kata setan dalam hati, andai ia memang punya hati.

Setan makin gembira. Manusia yang satu ini memang menyenangkan untuk
menjadi sahabatnya. Ketika waktu Ashar berlalu, temannya itu dilihatnya
masih juga asyik dengan kegiatannya. Kali ini, setan mulai terdiam.

Begitu pula ketika datang waktu Magrib. Temannya itu ternyata tidak
juga menunaikan salat. Aneh, bukannya gembira, si setan malah tampak
mulai gelisah. Senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya
nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat- ingat sesuatu.

Akhirnya, ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan salat
Isya, setan itu terlihat sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan
diri lagi. Dihampirinya manusia yang menjadi sahabatnya itu.

“Hai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !” katanya dengan nada ketakutan.

Manusia yang menjadi sahabatnya ini keheranan.

“Kenapa kamu ingkar janji ? Bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?” katanya.

“Aku takut !” jawab setan dengan suara gemetar. “Nenek moyangku saja,
dulu dilaknat Allah hanya karena sekali membangkang perintah-Nya, yaitu
ketika menolak disuruh sujud pada Adam. Nah, hari ini saja kusaksikan
kamu telah lima kali membangkang perintah untuk bersujud kepada-Nya.
Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !”
jelas setan sambil pergi meninggalkannya.